Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Tidak Boleh Tidur Lagi Setelah Sholat Subuh, Tanya Kenapa ?

Written By Admin on Jumat, 22 November 2013 | 20.07


Bila bisa bangun pagi, kenapa harus bangun siang? Menurut Agama dan menurut penelitian mengatakan bangun pagi itu jelas lebih baik dari pada bangun kesiangan! lalu, ketika kita sudah mengetahui bangun pagi itu sangat bagus kenapa kita tidak melaksanakannya. Bukankah kita manusia yang yang dapat mengembangkan akal pikirannya, dapat berpikir, dan dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. kita sudah tau bangun subuh (pagi) itu baik dan bangun kesiangan itu buruk. Tetapi hanya sebagian yang melaksanakannya. Sungguh yang sebagian lagi lebih mendengarkan nafsunya yang berasal dari setan. 

Imam Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, bahwasannya orang yang tidur di pagi hari akan menghalanginya dari mendapatkan rizki. Karena waktu subuh adalah waktu di mana makhluk mencari rizkinya, dan pada waktu tersebut Allah membagi rizki para makhluk.

Dan beliau menukil dari Ibn ‘Abbas radliyallahu ‘anhu bahwasannya dia melihat anaknya tidur di waktu pagi maka ia berkata kepada anaknya ‘bangunlah engkau! Apakah kamu akan tidur sementara waktu pagi adalah waktu pembagian rezki? ¹

Tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang shalih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barakah (banyak kebaikan).”

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu’ alahi wassallam yang shahih yaitu
“Ya Allah berikanlah berkah kepada umatku di pagi harinya”
HR. Abu Dawud no. 2606, Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236, shahihAt-Targhiib waTarhiib no, 1693

Dan hadits

“Diberikan barakah kepada ummatku di pagi harinya”
HR. Abu Dawud at-Thaayalisy dishahihkan Syaikh Alalbani dalam ShahihJami’ush Shaghir no. 2841

Rasulullah Saw. bersabda:

“Seusai shalat fajar (subuh) janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rezeki.” (HR. Thabrani)

Janganlah kamu tidur, begitu sabda Rasulullah Saw. untuk kita, seusai shalat subuh. Lalu, apa yang kita lakukan seusai shalat subuh? Banyak hal yang dapat kita lakukan. Setelah shalat subuh berjamaah di masjid, kita bisa duduk di ruang tamu untuk membaca Al-Qur’an. Setelah itu, membuka seluruh jendela dan membersihkan rumah. Atau, memulai segala aktivitas yang perlu untuk kita lakukan di pagi hari.

Berkenaan dengan mengisi waktu setelah shalat subuh ini, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disampaikan, “Peliharalah waktu itu dengan mengisinya melalui tilawah Al-Qur’an satu juz dalam satu hari, berdzikir atau menghafal. Inilah yang dilakukan Rasulullah Saw. selesai menunaikan shalat subuh, bahwa beliau duduk di tempat shalatnya hingga terbit matahari.”

Ada sebuah amalan yang sangat besar fadhilahnya apabila dilakukan seseorang dalam rangka memanfaatkan waktu di pagi hari ini. Hal ini dapat kita ketahui dari sebuah hadits, yakni dari Anas bin Malik r.a., ia berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“Barangsiapa shalat fajar (shalat subuh) berjamaah di masjid, kemudian tetap duduk berdzikir mengingat Allah, hingga terbit matahari lalu shalat dua rakaat (shalat dhuha), maka seakan-akan ia mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, dan sempurna.” (HR. Tirmidzi)

Subhânallâh…! Betapa besar pahala orang shalat subuh dengan berjamaah di masjid, kemudian tetap duduk untuk berdzikir hingga terbit matahari, lantas dilanjutkan dengan shalat dhuha, seakan ia mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna. Betapa besar pahalanya. Bisakah kita mengamalkanya? Kalau tidak bisa setiap hari, setidaknya seminggu sekali ketika kita libur dan tidak harus berpagi-pagi untuk berangkat bekerja. Apalagi sebagai karyawan, naik bus kota, dan tinggal di Jakarta, biasanya mesti berangkat lebih pagi agar tidak terjebak macet.

Hal yang teramat penting dari pembahasan ini adalah jangan tidur lagi seusai shalat subuh. Marilah kita isi waktu pagi itu dengan beribadah dan memulai aktitivitas harian semenjak pagi hari. Lebih bagus lagi, ketika sudah masuk waktu dhuha, segera kita menunaikan shalat dhuha. Dengan demikian, berarti kita telah mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang kaya karena waktu pagi memang penuh keberkahan; berarti kita telah benar-benar siap dalam menyambut datangnya rezeki dari Allah Swt.

“Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barakah dan keberuntungan.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar).

akhwatmuslimah.com
20.07 | 0 komentar

Bila Anak Susah Makan

Written By Admin on Jumat, 27 Januari 2012 | 00.06



Anak kecil umumnya susah disuruh makan di usia 1-5 tahun. Biasanya, orangtua melakukan berbagai cara agar si anak mau makan demi menjaga pertumbuhan si Anak.

Ingat satu kunci penting, jangan pernah paksa anak makan ketika dia memang tidak mau makan. Ketika Anda memaksa dia makan padahal dia memang tidak mau atau susah makan, itu bisa membuat si anak malah semakin jauh dari makanan.

Karena ketika tiba waktu makan, anak selalu merasa ketakutan akan Anda paksa sehingga dia malah benar-benar tidak mau makan. Kondisi ini bisa terbawa sampai dia dewasa nanti.

Buatlah suasana makan menjadi hal yang menyenangkan. Setidaknya dengan cara makan bersama keluarga dan si anak melihat betapa lahapnya anggota lain makan, itu akan membuatnya ikut makan.

Membuat variasi menu juga penting untuk membuat anak mau makan. Anda bisa membuat omelet nasi dan sayuran, orak arik telur, kentang dan wortel atau nasi goreng telur. Lebih menarik lagi Anda bisa sajikan makanan tersebut semenarik mungkin.

Sebuah penelitian menyebutkan anak-anak lebih suka melihat makanan dengan warna yang banyak dan juga bentuk yang lucu-lucu. Tidak ada salahnya Anda meluangkan waktu sedikit untuk itu semua demi anak tercinta.

Berkaca dari pengalaman pribadi ketika anak saya susah makan di waktu umurnya 1th.  Berbagai referensi buku dibaca, tanya dokter, orang tua, tetangga , teman-teman, browsing di internet cari tips praktis mengatasi anak susah makan.  Akhirnya juga resepnya kita yang ramu sendiri sesuai kebutuhan anak.

1. VARIATIF

Kebetulan waktu anak saya sama sekali gak mau makan nasi, sukanya mie goreng. Maka untuk menjaga keseimbangan asupan gizinya, saya siasati dengan memvariasikan jenis karbohidrat (nasi, gandum, mie, pasta, havermut, kentang, ubi, dll) tanpa mengabaikan makanan kesukaan anak. Boleh makan mie goreng tapi tidak setiap saat, kalo toh mie goreng itu juga bukan instant dan ditambah sawi, kol, wortel, buncis, ayam suwir, baso, sosis, daun bawang, tomat. Pokoknya komplit karbohidrat, protein dan vitamin. 

2. DO NOT FORCE

Selain itu juga yang perlu diingat adalah ketika anak tidak mau makan, jangan dipaksa. JANGAN PERNAH DIPAKSA!! Bukankah kita ingin menciptakan suasana makan itu menyenangkan agar anak berselera makan, jangan sampai ketika tiba waktu makan anak malah horror alias takut makan yang bisa terbawa sampai dia besar nanti.

3. NICE SERVING

Ada juga yang menyarankan untuk membuat penyajian makanan secara menarik, baik dari tempatnya juga makanan itu sendiri,  Dibentuk senyum, gambar hewan kesukaan, gelas dan pring/mangkoknya ceria dan berwarna.

4. MAKE IT FUN

Ciptakan suasana makan yang nyaman, asyik, dan berselera.  Minimal dengan cara makan bersama keluarga.  Sehingga anak dapat melihat secara langsung bagaimana anggota keluarga lain lahap makan.  Ketika anak belum mau makan, berikan alternative makanan/camilan yang lain.

Berikut resep makanan kesukaan anak saya ketika berumur 1 th :

1. Kentang rebus siram opor ayam

Kentang dikupas, cuci, kemudan dikukus.  Hancurkan kentang di mangkok sampai lembut, siram dengan kuah opor ayam yang daging ayamnya telah disuwir-suwir dan telah ditambahkan sayur buncis dan wortel.

 2. Orak arik telur, kentang & wortel

Potong kentang dan wortel bentuk dadu.  Kukus sampai empuk.  Sementara itu tumis bawang putih cincang dg mentega, tambahkan daun bawang masukkan telur diorak arik. Terakhir masukkan kentang&wortel yang telah dikukus. Tambahkan gula dan garam.

 3. Omelet nasi dan sayuran

Kocok telur ayam, masukkan nasi dan sayuran yang telah dipotong kecil-kecil (wortel, daun bawang, brokoli, buncis) tambahkan daging cincang. Goreng kecil-kecil.

 4. Nasi goreng  tahu telor

Tumis bawang putih cincang, masukkan daun bawang iris kecil, tahu bejek, wortel potong kecil, masukkan telur yg telah dikocok.  Aduk sampai ngaguruntul tambahkan nasi. Aduk sambil di tambah garam dan kecap.

Good Luck Mom!  

ghiboo.com 

abatasa.com
00.06 | 0 komentar

Memukul Malah Akan Membuat Anak Menjadi Trauma

Written By Admin on Rabu, 28 Desember 2011 | 07.05



Memukul atau menampar anak sebagai hukuman, ditambah perkataan "supaya anak jera", bukan tindakan tepat, apalagi dibenarkan. Memukul hanya membuat anak tidak jera. Yang paling dikhawatirkan, kebiasaan orangtua memukul malah akan membuat anak menjadi trauma. Harga diri mereka pun bisa jatuh. Bukan tidak mungkin, anak malah merasa dirinya jelek atau jahat.

Keinginan tangan untuk memukul pantat anak maupun menampar harus segera diikat, kalau perlu diborgol sekalian. Memukul, yang disebut orangtua sebagai hukuman (dalam bentuk fisik), akan memberi banyak pengaruh bagi anak. Bukan pengaruh positif, melainkan negatif.

Sebut saja Ari. Perempuan berusia 36 tahun itu suka memukul anaknya yang masih balita. Dia menyebutnya sebagai hukuman karena anaknya sering rewel tanpa alasan. Anaknya yang lain, sudah duduk di bangku sekolah dasar, juga tak luput dari pukulan. Alasannya, anaknya tak mau mengerjakan PR.

Tidak bermakna

Menurut Elly Risman, PSi, pukulan menjadi tidak bermakna kalau terlalu sering dilakukan. Kalaupun terpaksa dilakukan, jelaskan alasannya. Jangan memukul kalau hanya bertujuan untuk menyakiti. Meski demikian, Elly sangat menentang anak dipukul.

Mengapa anak sebaiknya tidak dipukul? "Pada dasarnya pukulan tidak mengajarkan kepada anak atas apa yang seharusnya dia lakukan. Malah, hukuman dalam bentuk pukulan akan membuat anak merasa jelek atau jahat," ujar psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini.

Dampak lain, seperti disebutkan Kidshealth, memukul akan mengajarkan anak bahwa oke-oke saja untuk memukul saat marah. Lebih buruk, memukul menjadi cara untuk menyelesaikan masalah atau melampiaskan emosi, dan ini akan membahayakan anak.

Ketimbang mengajarkan anak untuk mengubah perilaku, memukul membuat mereka takut dengan orangtua. Bagi anak yang mencari perhatian, mereka akan mencari berbagai cara untuk mendapat pukulan dari orangtuanya. Ini karena anak menganggap, perhatian negatif ini jauh lebih baik daripada tidak mendapat perhatian sama sekali.

Harga diri jatuh

"Pukulan memang hanya akan menghasilkan emosi negatif, bukan positif. Hukuman dengan pukulan membuat anak trauma, marah, menjatuhkan harga dirinya, dan akhirnya membuat mereka dendam," ujar Elly.

Fungsi kognitif anak juga ikut berpengaruh. Penelitian yang dilakukan di Duke University terhadap bayi 12 bulan yang dipukul menunjukkan skor tes kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak dipukul, setelah mereka berusia tiga tahun. Memukul pun memiliki efek merusak pada perkembangan perilaku dan mental anak.

Lisa Berlin, pimpinan penelitian dari Center for Child and Family Policy, Duke University, dan koleganya, menjumpai bahwa anak yang dipukul pada usia satu tahun cenderung memiliki perilaku lebih agresif pada usia dua tahun. Anak-anak ini pun pada pengukuran kemampuan berpikir di usia tiga tahun tidak menunjukkan sebaik anak lain yang tidak dipukul. Studi tersebut dipublikasikan pada jurnal Child Development seperti dikuti CNN Health.

"Yang kita bicarakan adalah bayi dan anak balita. Saya pikir, secara kognitif, mereka belum mengerti tentang benar-salah atau hukuman, serta manfaat dari pukulan tersebut," tambah Lisa.

Lebih agresif

Sementara itu, penelitian lain yang dilakukan di Tulane University menemukan, dari sekitar 2.500 anak yang diteliti yang biasa atau sering dipukul pada usia tiga tahun, mereka cenderung lebih agresif ketika menginjak usia 5 tahun.

"Biasanya, ketika anak lebih agresif, mereka menjadi lebih banyak dipukul dan terjadilah lingkaran yang tidak berkesudahan," imbuh Elly.

Memberi hukuman pada anak, apalagi dengan memukul, sangat tidak disarankan oleh Elly. "Baik pemberian hukuman maupun hadiah, kurang tepat diberikan kepada anak. Juga kurang efektif karena itu semua datang dari luar," kata Elly.

Hukuman yang diberikan tidak mengajarkan kontrol internal dari diri anak supaya perilaku yang keliru tidak dilakukan lagi. Hukuman tidak mengajarkan bagaimana anak bertingkah laku sesuai harapan orangtua dan bagaimana ketika situasi sama muncul lagi.

"Sebenarnya, mengapa sih kita memberi hukuman?" tanya Elly. "Hukuman lanjutnya bertujuan untuk membuat anak menyesal, atau menyakitinya karena dia telah berkelakukan tidak baik atau tidak pantas, dengan harapan agar anak tidak mengulangi perbuatannya lagi."

Kemudian, agar efektif, hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulangi kelakuannya. Padahal, dari semua itu, hukuman malah melatih anak takut kepada orangtua, melawan orangtua, berbohong, melakukan sesuatu tanpa ketahuan atau tertangkap basah, dan lain sebagainya.

Paling dikhawatirkan, hukuman malah akan merusak harga diri anak sehingga tidak efektif kalau sering digunakan. Ketimbang hukuman, orangtua sebaiknya memberi aturan yang jelas dengan melibatkan anak. Aturan menjadi seperangkat harapan terhadap anak, berupa panduan dan batasan, dengan dasar kepedulian serta cinta. Ketika anak bertingkah laku tidak sesuai harapan, coba hentikan, lihat, dengar, dan pikirkan perasaan yang mendorong perbuatannya. Selain itu, orangtua juga harus membantu anak mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk mencegah mereka mengulangi tingkah laku negatif.

KOMPAS.com
07.05 | 0 komentar

Perilaku Anak Agresif

Written By Admin on Kamis, 10 November 2011 | 23.38



Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya.

Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda.

Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun.

Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun.

"Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber.

Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.

Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk.

Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik.

Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting.

Untuk itulah, penting bagi orang tua untuk mengetahui kiat-kiat untuk mengatasi ketika anak-anak berperilaku agresif, seperti:

* Ajarkan anak Anda aturan di rumah, dan konsisten dalam menegakkannya.
* Jauhkan dan jaga barang-barang berharga dari anak yang berperilaku agresif untuk membantu mengurangi kemungkinan tak diinginkan ketika mereka mengamuk atau berperilaku agresif.
* Tersenyum dan memuji anak ketika mereka berperilaku baik.
* Jelaskan kepada anak Anda bahwa menggunakan kata-kata yang tepat dengan tenang adalah cara yang lebih baik untuk mengekspresikan kemarahan daripada menggigit, memukul atau menendang.
* Tekankan bahwa tidak penting untuk memulai berperilaku agresif, dan tidak benar untuk selalu bertindak agresif atau menyakiti seseorang.
* Untuk anak-anak yang berusia satu tahun, istirahat sejenak dari permainan atau hal-hal yang membuat mereka marah atau berperilaku agresif agar dapat membantu anak menjadi tenang.
23.38 | 0 komentar

Dongeng Untuk Anak

Written By Admin on Sabtu, 10 September 2011 | 00.06



Buat para orangtua, terutama ibu, mendongeng dan membacakan buku untuk anak-anaknya adalah semacam kewajiban tak tertulis. Lebih dari sekadar keharusan, kegiatan ini adalah kebahagiaan besar yang hanya bisa dinikmati ketika anak-anak belum memasuki usia remaja.


Setelah mereka beranjak besar, tentu kegiatan dan kebutuhan untuk membacakan buku ini tak berlaku lagi. Anak-anak yang sudah lebih besar akan memilih sendiri buku yang mereka suka, dan membacanya sendiri, tanpa perlu bantuan orangtuanya lagi.

Pada masa sekarang, ada lebih banyak pilihan dalam melakukan kegiatan intim ibu dan anak yang menyenangkan ini. Selain majalah anak-anak, buku cerita, dongeng, buku-buku komik klasik dan Jepang yang semakin banyak dan mudah ditemui, para orangtua kini bisa memilih untuk bercerita dengan cara digital. Kegiatannya sama, hanya medianya saja yang berbeda.

Dengan mudah, kita bisa menemukan bacaan-bacaan untuk anak di internet. Tinggal pilih, mau cerita berbahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Beberapa majalah anak-anak juga memiliki portal khusus yang bisa dinikmati gratis.

Tentu tidak semuanya bagus dan cocok untuk anak-anak kita. Orangtualah yang berkewajiban menyaring, bacaan apa saja yang kiranya bagus untuk mengisi waktu bersama anak kita.

Di Indonesia, ada satu gerakan sosial yang menarik, yaitu Indonesia Bercerita. Idenya unik dan orisinil, yakni mengajak kita semua membiasakan kembali mendongeng untuk anak-anak. Mendidik anak melalui cerita, membiasakan anak-anak untuk berimajinasi, yang pada akhirnya nanti diharapkan akan dapat membangun karakter bangsa.

Sangat masuk akal, karena pasti kita semua percaya bahwa anak adalah masa depan bangsa. Di tangan mereka lah, nasib negeri dan bangsa ini akan kita titipkan, jika kelak waktunya tiba.

Ketika mereka tumbuh menjadi manusia dewasa, merekalah yang akan menjadi pemimpin, menggantikan pemimpin dari generasi sekarang. Tentu kita ingin, para calon pemimpin bangsa ini memiliki karakter kuat, berkepribadian tangguh, tahan banting, punya empati, berjiwa sosial tinggi, serta mengerti apa arti tanggung jawab dan komitmen dari amanah yang dipercayakan ke tangan mereka.

Kembali ke Indonesia Bercerita, dengan cita-cita mulia seperti itu, tak heran jika gerakan ini menuai prestasi hebat di usia yang masih sangat muda. Terakhir, mereka dianugerahi Best of the Best Bubu Awards v.07.

Yang lebih menarik lagi, Indonesia Bercerita menyajikan dongeng atau cerita-cerita dalam format digital. Cerita diunggah dalam bentuk podcast, dan bisa didengar hanya dengan mengakses situs indonesiabercerita.org. Tinggal pilih ceritanya, lalu dengarkan bersama-sama. Atau lebih baik lagi, mintalah anak untuk memilih cerita yang ingin ia dengar, dan selamat menikmati momen-momen berharga bersama anak kita.'detiknet'
00.06 | 0 komentar

Inilah Cara Agar Anak Mencintai Buku

Written By Admin on Kamis, 08 September 2011 | 09.04



Kebanyakan orangtua pasti ingin anaknya mencintai buku. Tapi, membaca, memahami isi buku, hingga menjadikan si kecil kutu buku, membutuhkan lebih dari apa yang didapatnya dari sekolah.

Porsi yang cukup terhadap pendidikan dini terkait pula dengan kemampuan membaca, dari memahami huruf hingga mengucapkan kata. Untuk mengasah kemampuan tersebut, anak-anak butuh contoh dari orangtuanya di rumah.

Membaca diawali dari rumah, jauh sebelum anak Anda masuk dalam lingkungan sekolah. Sedari kecil, mereka merasakan seberapa besar minat kita terhadap buku. Kalau kita bisa menjadikan baca sebagai kegiatan yang nyaman, maka anak-anak juga akan merasakannya.

Berikut enam trik menjadikan si kecil pencinta buku, seperti diungkap Sheknows.

Punya buku di rumah

Aksi sederhana memiliki buku di rumah mengatakan pada si kecil bahwa membaca itu penting. Biarkan mereka "merasakan" kata-kata yang terdapat di halaman depan buku-buku tersebut.

Dengan itu, mereka akan lebih nyaman dengan bentuk huruf dan kata. Memang, ini tidak menjamin si kecil bisa membaca lebih awal, tapi setidaknya menjadikan kegiatan membaca nyaman baginya.

Atur waktu harian

Atur waktu harian untuk membaca dengan si kecil, bukan hanya membaca saat mengantarnya tidur. Jadikan aktivitas ini bagian dari rutinitas hariannya. Ini mengirimkan sinyal pada si kecil bahwa membaca adalah bagian dari hidup, bukan sesuatu yang spesial atau luar biasa.

Menjadi contoh

Kalau ingin membentuk si kecil menjadi pencinta buku, sebelum itu terjadi, Anda harus memiliki kebiasaan itu terlebih dahulu. Membaca dengan rutin (sebelum waktu membaca bersama si kecil) berbagai jenis buku, apakah fiksi atau nonfiksi. Intinya, biarkan si kecil tahu bahwa Anda menikmati kegiatan membaca.

Ajak pasangan untuk menerapkan hal serupa. Adalah penting bagi anak-anak untuk melihat ayahnya membaca dengan rutin, seperti ibunya.

Ajak si kecil ke perpustakaan lokal


Perpustakaan lokal adalah sumber yang sangat baik untuk mengalirkan kebiasaan membaca kepada si kecil. Kalau si kecil sudah bisa meminta Anda untuk mengajaknya ke sana, maka segeralah. Libatkan pula si kecil pada berbagai kegiatan yang diadakan perpustakaan lokal, dan lebih banyak waktu berkunjung.

Jadikan buku sebagai hadiah


Kesempatan memberi hadiah adalah cara yang sangat baik untuk menjadikan si kecil pencinta buku. Berikan buku dengan berbagai variasi cerita agar si kecil semakin mengenal dunianya dengan lebih kaya.

Bergabung pada klub membaca orangtua-anak

Banyak pusat komunitas, sekolah, dan perpustakaan yang memiliki klub membaca untuk orangtua dan anak. Biasanya, kegiatan ini melibatkan anak yang lebih tua.

Dengan bergabung di klub membaca, Anda bisa saling mendiskusikan isi buku dengannya atau dengan kelompok yang lebih luas. Dan untuk si kecil, Anda bisa turut mengajaknya saat ajang diskusi berlangsung. Jadi, ia semakin mengenal arti kebiasaan membaca.'suara media'
09.04 | 0 komentar

Pendidikan Seks Untuk Anak, Perlu kah..?

Written By Admin on Rabu, 20 Juli 2011 | 21.58


Pendidikan seks merupakan proses kegiatan yang berlangsung secara dialogis (ngobrol, dua arah), realistis (enggak teori melulu), jujur, terbuka, dan bukan dikte moral belaka. Pendidikan seks memberi pengetahuan nyata, menempatkan seks pada cara melihat yang pas, berhubungan dengan self-esteem (rasa penghargaan terhadap diri), penanaman rasa percaya diri, dan difokuskan pada peningkatan kemampuan dalam mengambil keputusan.

Mengapa Perlu Pendidikan Seks?

Anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Jika tidak mendapatkan pendidikan seks yang sepatutnya, mereka akan termakan mitos-mitos tentang seks yang tidak benar. Informasi tentang seks sebaiknya didapatkan langsung dari orang tua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak mereka.

Hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah. Angka yang memprihatinkan di negeri yang cukup menjunjung tinggi nilai moral sehubungan seks. Mengapa mereka bisa melakukan hubungan seks pranikah? Penyebabnya karena kurangnya pendidikan seks kepada anak dan remaja. Kapan pendidikan seks bisa mulai dilakukan?


Kapan Pendidikan Seks Dimulai?

Kapan pendidikan seks bisa mulai diberikan kepada anak? Beberapa orang tua sering menjawab pertanyaan seks dengan jawaban singkat: "Tunggu kamu besar!". Sebenarnya waktu terbaik memberikan pendidikan seks adalah sejak dini! Pendidikan seks dimulai bahkan sejak anak masih balita.

Jika Anda menunda memberikan pendidikan seks pada saat anak Anda mulai memasuki usia remaja, maka itu sudah terlambat. Karena di zaman di mana informasi mudah didapat dari Internet dan teman sebaya, maka saat anak usia remaja mereka telah mengetahui lebih banyak tentang seks dan kemungkinan besar dari sudut pandang yang salah.


Bagaimana Pendidikan Seks Diberikan?

Bagaimana cara terbaik memberikan pendidikan seks kepada anak-anak Anda? Berikut ini beberapa tahapan umur dan cara memberikan pendidikan seks sesuai dengan tingkat usia anak Anda.
  • Balita (1-5 tahun)
Pada usia ini, Anda bisa mulai menanamkan pendidikan seks. Caranya cukup mudah, yaitu dengan mulai memperkenalkan kepada si kecil organ-organ seks miliknya secara singkat. Tidak perlu memberi penjelasan detail karena rentang waktu atensi anak biasanya pendek.
 
Misalnya saat memandikan si kecil, Anda bisa memberitahu berbagai organ tubuh anak, seperti rambut, kepala, tangan, kaki, perut, dan jangan lupa penis dan vagina atau vulva. Lalu terangkan perbedaan alat kelamin dari lawan jenisnya, misalnya jika si kecil memiliki adik yang berlawanan jenis.

 Selain itu, tandaskan juga bahwa alat kelamin tersebut tidak boleh dipertontonkan dengan sembarangan, dan terangkan juga jika ada yang menyentuhnya tanpa diketahui orang tua, maka si kecil harus berteriak keras-keras dan melapor kepada orang tuanya. Dengan demikian, anak-anak Anda bisa dilindungi terhadap maraknya kasus kekerasan seksual dan pelecehan seksual terhadap anak.
  • Usia 3-10 tahun
Pada usia ini, anak biasanya mulai aktif bertanya tentang seks. Misalnya anak akan bertanya dari mana ia berasal. Atau pertanyaan yang umum seperti bagaimana asal-usul bayi. Jawaban-jawaban yang sederhana dan terus terang biasanya efektif.

    Contoh #1: "Bayi berasal dari mana?" Anda bisa menjawab dari perut ibu. Atau Anda bisa tunjukkan seorang ibu yang sedang hamil dan menunjukkan lokasi bayi di perut ibu tersebut.

    Contoh #2: "Bagaimana bayi keluar dari perut Ibu?" Anda bisa menjawab bayi keluar dari lubang vagina atau vulva supaya bisa keluar dari perut ibu.

    Contoh #3: "Mengapa bayi bisa ada di perut?" Anda bisa menjawab bahwa bayi di perut ibu karena ada benih yang diberikan oleh ayah kepada ibu. Caranya adalah ayah memasukkan benih tersebut menggunakan penis dan melalui vagina dari ibu. Itu yang dinamakan hubungan seks, dan itu hanya boleh dilakukan oleh pria dan wanita yang telah menikah.
  • Usia Menjelang Remaja
Saat anak semakin berkembang, mulai saatnya Anda menerangkan mengenai haid, mimpi basah, dan juga perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada seorang remaja. Anda bisa terangkan bahwa si gadis kecil akan mengalami perubahan bentuk payudara, atau terangkan akan adanya tumbuh bulu-bulu di sekitar alat kelaminnya.
  • Usia Remaja
Pada saat ini, seorang remaja akan mengalami banyak perubahan secara seksual. Anda perlu lebih intensif menanamkan nilai moral yang baik kepadanya. Berikan penjelasan mengenai kerugian seks bebas seperti penyakit yang ditularkan dan akibat-akibat secara emosi.

Menurut penelitian, pendidikan seks sejak dini akan menghindari kehamilan di luar pernikahan saat anak-anak bertumbuh menjadi remaja dan saat dewasa kelak. Tidak perlu tabu membicarakan seks dalam keluarga. Karena anak Anda perlu mendapatkan informasi yang tepat dari orang tuanya, bukan dari orang lain tentang seks.

Karena rasa ingin tahu yang besar, jika anak tidak dibekali pendidikan seks, maka anak tersebut akan mencari jawaban dari orang lain, dan akan lebih menakutkan jika informasi seks didapatkan dari teman sebaya atau Internet yang informasinya bisa jadi salah. Karena itu, lindungi anak-anak Anda sejak dini dengan membekali mereka pendidikan mengenai seks dengan cara yang tepat.
21.58 | 0 komentar

Empati Perlu Dilatih Sejak Dini

Written By Admin on Kamis, 09 Juni 2011 | 06.26

 Pola pengasuhan memengaruhi kepribadian anak ketika tumbuh dewasa. Anak laki-laki yang dididik dengan baik dan benar sejak belia, akan tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan dan dapat diandalkan oleh keluarganya. Orangtua perlu membekali anak, terutama anak laki-laki, dengan empati sejak belia.

Anak laki-laki yang semasa tumbuh kembangnya terlatih berempati, ia akan tampil sebagai pribadi yang memahami perasaan orang lain. Pribadi penuh empati seperti ini memudahkan ia untuk berteman, dan menjadikannya sebagai calon suami dan ayah yang baik untuk keluarganya kelak.

"Empati adalah kemampuan sosial yang sangat berharga dan bisa membantu diri sendiri, juga orang lain. Empati juga mencegah seseorang dari perilaku buruk yang melukai orang lain," jelas Shari Young Kuchenbecker, PhD, asisten profesor psikologi di Chapman University, Orange, California. “Empati adalah salah satu fondasi terbaik yang bisa orangtua berikan kepada anak laki-lakinya," lanjutnya.

Bagaimana cara melatih empati anak?
* Permainan seni peran
Ciptakan sebuah permainan, yang bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, terkait dengan sesuatu yang disukainya. Kalau anak menyukai sepakbola, saat ia menonton pertandingan sepakbola, Anda duduk bersamanya. Ketika pemain favoritnya ditugaskan menendang bola di kotak penalti, ajak anak Anda memposisikan dirinya seolah-olah menjadi pemain sepakbola tersebut. Ajak anak menelusuri perasaannya, bagaimana rasanya jika ia berada dalam posisi tersebut. Bagaimana tekanan yang ia rasakan, sekaligus semangat dan kebanggaan yang luar biasa. Dengan cara ini anak belajar mempertimbangkan perasaan orang lain dengan menempatkan dirinya berada di posisi orang lain tersebut.

"Jika cara ini dilakukan terus menerus setiap tahun, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengatasi situasi emosi dengan baik," jelas Dan Kindlon, PhD, penulis buku Raising Cain: Protecting the Emotional Life of Boys.

* Picu anak membaca novel
Studi yang masih berlangsung di York University di Toronto menunjukkan seseorang yang membaca buku fiksi lebih sering dibandingkan nonfiksi memiliki empati lebih tinggi.

Para peneliti menelaah pengaruh bacaan fiksi terhadap empati. Menurut mereka, bagian dari otak yang digunakan untuk memahami karakter fiksi dari sebuah novel, sama dengan yang digunakan seseorang ketika memahami perasaan atau kondisi orang lain. Ketika bagian otak ini semakin sering digunakan, kemampuan seseorang dalam berempati akan terus terasah.
Sumber: WomansDay,kompas.com
06.26 | 0 komentar

Stres Anak dan Bantuan Mengatasinya

Written By Admin on Rabu, 08 Juni 2011 | 09.12


Saat sedang banyak pikiran, seorang dewasa kadang-kadang kita ingin kembali ke masa kanak-kanak karena berpikir pada masa itu seorang anak dapat bermain dengan bebas tanpa perlu memikirkan keluarga, keuangan, atau hal lainnya. Namun, seorang anak yang masih polos pun juga bisa mengalami frustasi dan stres. Bahkan beberapa penyakit pada anak bisa jadi disebabkan karena reaksi psikosomatik yang disebabkan karena stres.


Penyebab Stres Anak

Stres pada anak dapat terjadi pada berbagai usia, bahkan sejak usia dini, sejak dalam kandungan. Bila ibu yang mengandung mengalami stres, janin yang ada dalam kandungan juga akan merasakannya. Detak jantung janin menjadi tidak teratur, sehingga persediaan oksigen dan sari makanan berkurang. Seiring pertambahan usia terutama saat masa remaja, berbagai penyebab dapat memicu stres pada anak, di antaranya adalah:
  • Makanan
Kurangnya kandungan gizi pada makanan dapat menyebabkan pertumbuhan anak tidak optimal dan suplai gizi yang diperlukan tubuh tidak tercukupi sehingga dapat menimbulan stres. Begitu juga, konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan, karena makanan tersebut memiliki kandungan gula yang berlebih dan minim gizi untuk tubuh.
  • Kurang tidur
Terlalu banyak bermain atau menonton televisi membuat anak kekurangan jam tidurnya. Untuk anak yang telah bersekolah, banyaknya tugas dari sekolah, kegiatan ekstrakurikuler atau kursus yang berlebihan membuat anak kekurangan waktu dan harus menghabiskan waktu untuk menyelesaikan tugasnya sehingga jam tidur berkurang. Kurang tidur dapat menyebabkan emosi dan pikiran anak menjadi tidak stabil dan rentan mengalami stres.
  •  Lingkungan keluarga
Pertengkaran orang tua atau perceraian dapat menyebabkan ketakutan pada anak. Hal ini wajar, karena seorang anak sangat mendambakan kasih sayang orang di sekelilingnya, terutama orang tuanya untuk membuatnya merasa aman dan terlindung.
  • Pola asuh orang tua
Secara umum, pola asuh orang tua terdiri dari 3 macam. Pertama, authoritarian di mana orang tua bersikap otoriter, tidak memberi anak kebebasan dan memaksa anak agar memenuhi tuntutan orang tua bahkan menganiaya anaknya. Kedua, permissive yaitu orang tua sangat membebaskan anaknya walaupun seorang anak belum dapat membuat keputusan dengan tepat dan membiarkan kesalahan anak. Ketiga, authoritative yaitu orang tua menentukan dengan jelas konsekuensi dari setiap tindakan yang diambil, mereka tidak mengekang anak secara berlebihan juga tidak membebaskannya, tetapi terus memberi perhatian pada anak dan berusaha membentuk anak yang mandiri. Pola authoritative ini yang paling baik untuk membentu kepribadian anak. Stres dapat terjadi pada anak apabila dia merasa tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya ataupun karena dia harus mengalami konsekuensi buruk akibat kesalahan keputusan yang diambilnya.
  • Tekanan dari teman
Dalam pergaulannya, seorang anak tidak ingin berbeda dari anak-anak lain dari kelompoknya. Perbedaan seorang anak, mungkin karena fisik atau sifatnya dapat memancing ejekan dari teman-temannya. Ini pula yang dapat menyebabkan seorang anak merasa stres karena merasa tidak dapat diterima oleh teman-temannya.


Gejala Stres

Seorang anak yang stres dapat diidentifikasi dengan memperhatikan tingkah lakunya. Reaksi-reaksi psikosomatik, termasuk problem pencernaan, sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah sewaktu buang air, mungkin merupakan tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tanda lainnya seperti sering menangis, senang menyendiri, rewel, tidak mau berangkat ke sekolah atau suatu tempat, membuat kenakalan di sekolah atau di lingkungan tempat bermainnya, penurunan nilai sekolah. Bahkan stres juga dapat menyebabkan penyakit fisik pada anak, misalnya merasa pusing, mual, diare, kelumpuhan akibat depresi, atau penyakit lainnya.

Apabila seorang anak mengalami sakit dalam waktu lama dan setelah dikonsultasikan ke dokter tidak ditemukan penyebab pastinya, maka tidak ada salahnya bila Anda meminta bantuan seorang psikolog, karena penyakit tersebut bisa saja bukan disebabkan virus, bakteri atau kerusakan pada tubuh melainkan disebabkan pikiran anak yang sedang stres.


Membantu Anak yang Mengalami Stres

Sebagai manusia yang belum berpengalaman dan kapasitas otak yang belum optimal, seorang anak tidak memiliki kemampuan untuk mencari solusi dari stres yang dideritanya sehingga perlu mendapat bantuan dari orang dewasa untuk dapat mengatasi kesulitannya sehingga stres yang dialaminya tidak berkepanjangan.

Bila ada indikasi anak Anda mengalami stres, hindari untuk merasa panik berlebihan karena bila Anda panik maka Anda dapat pula menderita stres sehingga tidak dapat membantu anak Anda. Yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak Anda adalah:
  • Perbaiki pola asuh Anda
Bila selama ini Anda cenderung otoriter atau sebaliknya serba boleh, sebaiknya Anda mengubah pola asuh Anda agar anak Anda tidak merasa terbebani dengan tuntutan yang berlebihan. Sebaliknya, berikan aturan yang jelas, mengapa aturan tersebut diberikan dan konsekuensi apabila peraturan dilanggar. Jangan lupa untuk memberikan pujian jika anak Anda bersikap positif, tetapi berikan teguran atau disiplin apabila anak melakukan pelanggaran serta penjelasan mengapa disiplin diberikan dan bukan karena orang tua membenci anaknya.
  • Jangan buat tuntutan yang berlebihan
Orang tua menginginkan anaknya mencapai yang terbaik, tetapi jangan tetapkan target yang tidak dapat dicapai oleh anak. Jangan pula mengritik atau membanding-bandingkan seorang anak dengan orang lain. Terimalah seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika seorang anak gagal mencapai tuntutan yang Anda berikan, jangan menghukum atau mengejeknya, tetapi bantulah anak agar dapat menjadi lebih baik di kemudian hari. Kegagalan yang dialami anak sekarang bukan berarti dia tidak dapat menjadi lebih baik dan bukan berarti akhir segalanya.
  • Buat kedekatan dengan anak dan komunikasi yang terbuka
Kedekatan orang tua dengan anak akan membantu seorang anak terbuka terhadap orang tua dan leluasa menjadikan orang tua sebagai tempat curhat. Anak dapat menceritakan kejadian yang tidak menyenangkan yang dialaminya saat di sekolah atau di luar rumah. Orang tua, sebagai manusia yang lebih berpengalaman dapat memberikan solusi yang baik untuk anak atau mengambil tindakan yang diperlukan agar kejadian tidak menyenangkan dapat dihindari. Ini sangat baik dibandingkan jika anak menceritakan permasalahannnya kepada teman sebaya atau orang lain yang tidak tepat yang dapat memberikan saran yang membuatnya semakin terpuruk.
  • Ciptakan keluarga yang harmonis
Hubungan ayah ibu yang harmonis, kedekatan dengan kakak adik dan anggota keluarga lain membuat anak merasa nyaman dan betah di rumah, membantunya terhindar dari pergaulan buruk yang dapat menimbulkan berbagai masalah yang dapat membuat anak stres. Selain itu, dengan keluarga harmonis dapat menghindari terjadinya pertengkaran bahkan perceraian yang akan mengganggu kestabilan emosi anak.
  • Bentuk anak yang mandiri
Seorang anak pada saatnya harus menjadi mandiri, karena tidak mungkin orang tua terus menerus mengawasinya. Maka, bantu anak dengan melatihnya untuk membuat keputusan yang diperlukan. Misalnya, saat seorang anak menanyakan apakah suatu tindakan boleh dilakukan atau tidak, ajak anak berdiskusi apa hal baik dan hal negatif yang akan terjadi jika anak melakukan hal tersebut. Hal ini dapat membantu anak jika suatu saat ia harus membuat keputusan tanpa bantuan orang tua. Anak yang mandiri juga akan lebih dpaat menyelesaikan masalahnya dan menangani saat dia merasa tidak nyaman sehingga mencegah anak mengalami stres.
  • Beri keleluasan yang wajar untuk anak
Untuk hal-hal yang tidak terlalu prinsip, berikan keleluasan pada anak. Misalnya dalam menentukan kegiatan ekstrakurikuler atau kursus yang akan diikutinya. Biarkan anak menyalurkan hobinya sehingga anak tidak merasa terkekang dan menikmati aktivitasnya.
  • Berikan makanan sehat dan tidur cukup
Karena asupan gizi dapat mempengaruhi stres anak, maka sajikan makanan yang bergizi untuk Anda, jangan membiasakannya dengan makanan cepat saji, soft drink, atau jajanan lain yang tidak bergizi. Juga biasakan anak agar makan dengan teratur dan tepat waktu. Sedangkan untuk membantu anak cukup tidur, bantu anak agar memiliki jadwal yang baik, tentukan kapan dia boleh bermain, kapan harus mengerjakan tugas dan jadwal lainnya sehingga anak memiliki waktu untuk tidur siang dan tidak sampai harus tidur larut malam untuk mengerjakan tugasnya. 

Bagaimana Anak Memandang suatu Peristiwa?
  1. Kematian orang tua    Anak akan merasa bersalah. Anak memandang bahwa orang tua meninggal karena kesalahannya yang sering membuat orang tuanya marah.
  2. Perceraian    Anak merasa ditelantarkan. Logika seorang anak mengatakan bahwa jika orang tua dapat berhenti mengasihi satu sama lain, mereka pun dapat berhenti mengasihi dia.
  3. Pertengkaran orang tua    Anak ketakutan saat melihat orang tua bertengkar. Pertengkaran orang tua dapat menimbulkan stres berat sehingga mengakibatkan muntah-muntah, tanda-tanda ketegangan pada wajah, kerontokan rambut, naik atau turunnya berat badan, dan bahkan bisul-bisul.
  4. Terlalu banyak tuntutan    Karena ditekan untuk menjadi yang terbaik di sekolah, di rumah, dan bahkan sewaktu bermain, sang anak tidak pernah menang dan perlombaan tidak pernah berakhir.
  5. Ada adik baru    Karena anak harus berbagi perhatian dan kasih sayang orang tuanya, ia mungkin merasa telah kehilangan orang tua sebaliknya daripada mendapat adik.
  6. Kesalahan    Anak memandang kesalahan seperti penghinaan. Karena memiliki citra diri yang labil, anak-anak cenderung memandang segala sesuatu jauh melampaui porsinya. Ia mendapati bahwa penghinaan adalah salah satu penyebab umum bunuh diri di kalangan anak-anak.
  7. Cacat    Seorang anak yang cacat fisik atau mental mungkin harus menanggung ejekan dan ketidaksabaran guru dan anggota keluarga yang menyatakan kekecewaan atas apa yang sama sekali di luar kesanggupannya. Hal ini akan menyebabkan frustasi pada anak.
Perhatian dan kasih sayang yang dari orang tua tertutama yang dibutuhkan anak dan membantu anak terhindar dari stres. Maka, terus dukung, latih dan asuh anak Anda agar dia dapat menikmati hari-harinya dengan ceria.
sumber:kumpulan info
09.12 | 0 komentar

Categories

Blog Archives

Pengikut